taktikkoe

Just another WordPress.com site

Paguyuban Indigo (Komunitas dan Pusat Studi Indigo Indonesia)

Anak Indigo, Agen Perubahan
Damu Damianus Ambarita |Kompas 1 sept 2008

KAUM indigo kini memiliki paguyuban yang disebut Komunitas dan Pusat Studi Indigo Indonesia (KPSII). Komunitas ini resmi dibentuk pda Sarasehan Kebudayaan Indigo untuk Indonesia, yang diselenggarakan berkat kerjasama antara KPSII dan Jaringan Wartawan Lintas Media Gerakan Ekayastra Unmada – Semangat Satu Bangsa, Jakarta, Senin (1/9).

Kata indigo sendiri diambil dari nama warna yaitu indigo, yang dikenal sebagai warna biru sampai violet. Orang indigo adalah istilah yang diberikan kepada anak yang menunjukkan perilaku lebih dewasa dibandingkan usianya dan memiliki kemampuan intuisi yang sangat tinggi. Biasanya mereka tidak mau diperlakukan sebagai anak-anak.

Bagaimana hubungan warna itu dengan anak-anak yang mendapat julukan tersebut dan diketahui memiliki indera keenam. Indera yang dimaksud adalah intuisi, semua orang sebetulnya memiliki intuisi tetapi khusus anak indigo mempunyai intuisi yang luar biasa tajam di atas kemampuan orang kebanyakan. Mereka demikian peka seperti halnya anak jenius mempunyai kepintaran di atas rata-rata, demikian juga anak indigo mempunyai intuisi luar biasa tajam.

Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada, Putut Prabantoro menjelaskan generasi Indigo adalah generasi istimewa karena memiliki kemampuan sejak lahir yang tidak dimiliki orang pada umumnya. Jika kemampuan komunitas indigo ini dapat diakomodasi dan dikembangkan dengan baik tentu akan memberi manfaat yang baik bagi negara, bangsa dan budaya Indonesia.

Kemampuan orang atau anak indigo, Putut menambahkan, tidak hanya terletak pada rata-rata IQ-nya, tetapi juga karena generasi ini memiliki indera keenam, yang menjadikan kelompok ini istimewa. Hanya, karena ketidaktahuan atau pemahaman indigo, masyarakat ataupun orangtua dari anak indigo sering memandang anak indigo sebagai anak yang membutuhkan pendampingan khusus.

Pemahaman bisa terjadi atau berkembang jika komunitas indigo yang terbentuk bisa membantu generasi indigo untuk tumbuh berkembang sesuai dengan pola-pola pendidikan yang seharusnya diterima. “Spiritulitas bangsa Indonesia bisa terbangun dengan peran serta dari kelompok indigo yang memang sejak lahir memiliki kepekaan spiritualitas yang tinggi,” ujar Putut Prabantoro.

Ketua Umum KPSII Rossini Larasati menjelaskan Komunitas dan Pusat Studi ini didirikan sebagai kelompok diskusi, konseling atau pendampingan bagi indigo muda dan orangtua yang anaknya terlahir sebagi indigo dan sekaligus penyebaran informasi dan konsultasi

Generasi indigo yang sering disebut sebagai pemimpin bersorban biru, atau highly spiritual children, the superphysic children merupakan agent of changes. Komunitas ini diperkirakan akan memadati Jawa dan diperkirakan pada tahuna 2010 akan terkumpul 5.797 powerful indigo.

Oleh karena itu, generasi indigo akan menjadi komunitas perubahan spiritual yang akan terjadi di Indonesia. “Komunitas indigo mendapat tentangan dari masyarakat yang tidak memahami indigo,” ujar Rossini yang juga menjadi konsultan dari generasi indigo.

Ciri anak indigo bisa dilihat dari beberapa faktor antara lain, adanya ucapan / tindakan cerdas dan bijaksana pada usia yang relatif muda yang setara atau bahkan melebihi orang dewas. Anak-anak indigo juga memperhatikan alam dan fenomenanya dan berbakat psychic.

Sementara ancaman generasi indigo muncul dari diri sendiri (anak indigo itu sendiri), orangtua. Lingkungan (masyarakat) dan bahkan negara. Oleh karena itu, menurut Rossini, KPSII juga meluncurkan website (www.indigoindonesia.com) sebagai sarana masyakarat, orangtua dan juga generasi untuk saling berinteraksi.

Sementara itu, KH Amiruddin Syah dari Institut Kajian Tasawuf “Az Zukhruf”, Jakarta menjelaskan bahwa menurut sejarah, Pancasila disusun oleh anak-anak indigo. Pada abad ke 14 Mpu Prapanca menulis Nagarakartagama. Dalam buku tersebut dituliskan Bhinneka Tunggal Ika yang kemudian disempurnakan oleh Mpu Tantular. Bhinneka Tunggal Ika kemudian dipahami sebagai budaya yg berbeda-beda namun tujuannya adalah satu dan agama yang berbeda juga bertujuan satu yakni Allah dan Kehidupan yang baik.

Menurut Amiruddin Syah, ciri tambahan dari anak indigo adalah anak yang memiliki energi yang berlebih dan penglihatan yang berlebih. Oleh karena itu Institut Tasawuf juga mendidik orangtua yang anaknya indigo. Ciri lain yang bisa dikenali jika pada suatu saat anak bertepuk tangan sendirian atau “mojok” sendirian dalam ruangan. “Kajiwan Tasawuf terkait dengan spiritualitas adalah mencari Allah dengan peralatan atau sarana yang telah Allah berikan kepada manusia,” ujarnya.

Amiruddin Syah juga menjelaskan bahwa ciri-ciri yang juga bisa untuk memperjelas indigo atau bukan adalah kemampuan seorang anak untuk melihat makhluk tidak kasat mata dan kemampuan berkomunikasi dalam berbagai bahasa.

Sumber :Persda Network

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: