taktikkoe

Just another WordPress.com site

Hari Ini 21 April Nih, Baca Ini Ya…

Kontemplasi Seorang Perempuan Dalam Konteks Sebagai Calon Ibu dan Ibu.

Postingan kali ini kubuat karena terusik gerahnya hari ini. Maksudku, karena hari ini tanggal 21 April dan seolah merupakan hari introspeksi bagi aku sebagai seorang ibu/ bunda.

OK, technical kita sebagai ibu… wuah… menguasai sekali dah, banyak kok buku yang membahasnya, sebelum/sesudah nikah kita bawa dah kemana-mana tuh buku biar mudah dibaca (skalian untuk kerpekan/ contekan).
Tapi.. seringkali kenyataan tak seindah teorinya (ngaku gak?). Ribetnya urusan rumah tangga, kecil bisa jadi besar, besar bisa jadi kecil sehingga gak dianggep dan.. kadang2 stuck! Gitu ya? iya… sama dah.

Tapi… ibaratnya seperti lagi nyiapin naik haji, yang dipikirin jangan hanya gimana dan dimana ikutan dan ngrasain kursus dan latihan hajinya aja, repot sekali dengan perkumpulan-perkumpulan haji, KBIH-KBIH, agar mahir dengan ritual haji yang ‘begitu’ aja tapi tidak berusaha memaknai pengertian ‘mabrur’ haji itu sendiri.
Jadi bersemangat menggebu-gebu untuk mendapatkan kemabruran tanpa memahami makna kemabruran itu sendiri. Hanya mengejar kemampuan teknisnya tapi tidak mengejar roh dari wujud haji itu sendiri.

Ibaratnya lagi ya, manusia tanpa roh kalau belum berusaha mengetahui jati dirinya sebagai wanita.
Ibaratnya lagi ya.. (kok banyak?), kita seperti orang buta.a. gitu, ngeloyor aja, jalan terus tanpa tahu arah dan tujuannya (istilah kerennya : gak tau visi misinya)
He..he.., ibarat yang mana ya.. yang paling pas?

OK, bagi kita sebagai wanita (yang pria baca juga dah.. biar ngeh) harus dengan kerelaan hati menerima keadaan hukum ‘Syariat Islam’ yang walaupun sampai zaman emansipasi wanita sudah mencapai puncaknya sekalipun or.. terima kodrat kita dengan seikhlas-ikhlasnya biarpun dengan catatan ya…(dalam konteks sebagai calon ibu dan ibu).
Apa sih.. maksudnya?

Gini nih, dari lahir sampai akil baligh kita menjadi milik ortu sepenuhnya dalam arti ortu berkewajiban memelihara dan mendidik, memberi batasan-batasan, melarang sesuatu, memerintahkan sikap dan perbuatan sebagai pendidikan yang bermanfaat buat kita. Nah, setelah menjadi istri dari suami kita, maka kita menjadi tanggung jawab suami, yang mempunyai kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan (disamping ada hak-hak dari suami). Mengutip tuntunan Rasulullah Saw, berikut yang pada umumnya mengandung hak-hak suami yang wajib ditanggung istri :

(Jikalau aku dapat menyuruh seorang agar sujud kepada orang lain sungguh aku perintahkan perempuan bersujud kepada suaminya karena begitu besar hak suami atas istrinya) atau yang ini (Apabila seorang perempuan telah mendirikan sholat lima waktu, berpuasa ramadhan dan memelihara farjinya dengan taat kepada suaminya maka ia akan masuk surga).

Disamping..
Sebagai wanita kita sudah harus siap ‘momong’ anak. Memelihara kesehatan bayi sejak di dalam kandungan, lahir sampai balita. Lalu kalau bisa nih, jangan sampai minta tolong kepada orang tua, untuk momong cucu. Karena minta tolong itu kata halus dari menyuruh kan..Lagian, di dalam masyarakat secara umum menyuruh orang tua adalah sangat tercela. Lebih jauh lagi nih, bila momong anak itu diberikan kepada orang lain maka kita tidak akan pernah merasakan pahit getir dan jerih payahnya momong anak. Sehingga tidak bisa ingat dan merasakan bagaimana orang tua menanggung payah derita demi anak ketika bayinya sampai besar. Akibatnya, kita bisa menjadi tidak peka terhadap kebutuhan dan kesulitan orang tua, bah kalau sudah gitu pengabdian kepada orang tua akhirnya terabaikan. Na’udzu billahi mindzalik.

Sungguh, setelah menulis paragraf tadi, hatiku jadi ‘sesuatu’ sekali, gimana gak, sebegitunya seharusnya kita sebagai wanita, gerah dan sedih rasanya mengikuti ‘fenomena’ belakangan ini yang dihantui dengan berita-berita (astaghfirullahal adzim) Bapak membunuh anaknya karena ditinggal istrinya, bapaknya nganggur sih kata istrinya. Atau istri yang membawa serta anak-anaknya bunuh diri bersama-sama karena kesulitan hidupnya. Atau fenomena yang ‘biasa’ seperti kawin cerai karena beda visi (atau terprovokasi?).

Ngga’ lah ya.a..a..
Istri gak boleh stuck minded (gitu apa ya ngomongnya?) karena terlalu banyak detail hidup yang gak sesuai harapan.
Coba sekali ini kita tengok historical Asma binti Yasid Anshori yang komplain tentang keadaan hidupnya sebagai perempuan kepada Rasulullah Saw :
“Rasulullah, saya datang sebagai utusan kaum wanita. Sungguh tuan adalah utusan Allah untuk kaum laki-laki dan juga kaum perempuan. Untuk itu, kami sebagai kaum wanita telah beriman kepada Allah dan kepada tuan. kami kaum wanita senantiasa hanya tinggal di dalam rumah, tertutup dalam hijab dan kami senantiasa sibuk menunaikan keperluan serta keinginan suami, kami senantiasa mengasuh anak-anak. Sedangkan kaum laki-laki senantiasa mendapat pekerjaan yang dapat memborong pahala, mereka menghadiri sholat jumat, sholat wajib lima waktu berjamaah, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, dapat pergi haji dan paling utama adalah dapat berjuang di medan jihad, kamilah yang menjaga harta benda mereka, menjahit baju-baju mereka, juga memelihara anak-anak mereka, maka apakah kami tidak mendapat pahala yang sama dengan mereka?
Rasulullah Saw mendengarkannya dengan penuh perhatian. Kemudian beliau berpaling kepada para sahabatnya, beliau bertanya : ” pernahkah kalian mendengar pertanyaan dari seorang perempuan yang lebih baik dari pertanyaan wanita ini? para sahabat menjawab : “Ya Rasulullah bahkan kami tidak mengira bahwa wanita dapat bertanya seperti itu. lalu Rasulullah berpaling kepada Asma dan bersabda : “Dengarkanlah dengan baik dan perhatikan, lalu sampaikanlah kepada kaum muslimah yang telah mengirim engkau kesini. Jika istri selalu berbuat baik kepada suaminya, selalu mentaatinya, melayaninya dengan baik dan berusaha selalu gembira, maka itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Jika semua itu dapat kalian kerjakan, kalian akan mendapat pahala yang sama dengan laki-laki. Mendengar jawaban Rasulullah Saw, hati Asma sangat gembira dan segera kembali menjumpai kaumnya.

Semoga kita bisa mengambil hikmah dari segala kejadian yang menjadi fenomena belakangan ini, sehingga kita bisa menjadi orang tua / ibu yang kuat menghadapi perkembangan jaman, tentunya dengan selalu berusaha meningkatkan ibadah kita, memperbaiki yang salah menambah yang kurang dan menjadikannya satu kesatuan dengan diri kita. Sehingga kita menjadi bisa lebih bermanfaat buat keluarga kita. Amin..

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: