taktikkoe

Just another WordPress.com site

Suami Bukan Tuhan Bagi Keluarganya

Setiap manusia (anggota keluarga) masing-masing punya existensi sendiri-sendiri. Mereka adalah pribadi sendiri-sendiri, tidak sama dan tidak bisa dipersamakan antara satu dengan yang lainnya. Begitupun tidak boleh ada intervensi terhadap pribadi masing-masing.

Keluarga adalah satu tim dimana satu dengan yang lainnya harus saling mengingatkan, saling melengkapi, saling mengkoordinasi, tidak mengintervensi, tidak menginterupsi.
Untuk membentuk kehidupan yang harmonis dan sejahtera, secara adil tidak boleh ada yang merendahkan dan menghina satu sama lain, karena setiap dari kita adalah memiliki derajad yang sama, yang kecil ataupun yang besar, yang muda ataupun yang tua.

Kembali pada makna ‘bertuhan’, artinya adalah menempatkan ‘sesuatu’ menjadi pusat dan tujuan bagi kehidupan seseorang.
Ketika kita menempatkan ‘kekuasaan’ sebagai ‘pusat’ dan ‘tujuan’ hidup kita, maka kita sebenarnya telah bertuhan pada kekuasaan.

Pada ‘sebagian’ dari kita, dominasi kekuasaan ‘biasanya/ ditangan suami.
Dominasi dan sentimen konservativme negatif kerapkali mengancam tatanan berkeluarga.
Lebih-lebih kalau kekuasaan diatasnamakan untuk kesejahteraan dan keadilan oleh suami. Suami dengan tipikal demikian merasa mampu mengatasi berbagai macam hal dalam kehidupannya. Bahkan dia beranggapan menjadi tempat bergantung sepenuhnya bagi keluarganya dan orang lain.
Jadilah dia menjadi penguasa yang melalui kekuasaannya telah mendorong dirinya untuk bertuhan kepada dirinya sendiri.
Pada akhirnya dia akan menafikkan pendapat orang lain dalam keluarganya. Ketika seseorang (suami) menempatkan dirinya sebagai penguasa tertinggi dalam keluarganya, maka sebenarnya dia telah menempatkan dirinya sebagai ‘tuhan’, dimana dia sebenarnya tidak mempunyai hak sedikitpun bagi seseorang untuk menguasai orang lain.

Mari kita tengok yang ini,

Kahlil Gibran, seorang filosof muslim dunia yang berasal dari Libanon berkata:

“ Anakmu bukanlah milikmu, ia hanyalah titipan Tuhan padamu, anakmu ibarat sebatang anak panah dan kamu adalah busurnya. Tarik tali busur panahmu, arahkan anak panahmu kearah sasaran yang tertinggi dan terbaik bagi anak panahmu, kemudian lepaskanlah anak panahmu membelah angkasa menuju sasarannya, untuk mencapai takdirnya….dan kamu serahkan semua hasil akhirnya kepada anak panahmu dan Tuhan, setinggi apa dia terbang dan apakah bisa tepat mencapai sasaran yang diharapkan, kamu harus ikhlas sambil berdoa yang terbaik…”

Yang kita baca tadi, tidak saja mengingatkan kita bahwa setiap dari masing-masing anak-anak kita adalah diri mereka sendiri, yang mana kewajiban orang tua (suami khususnya) hanyalah memberi warna dan nada lalu menstimulasi arah orientasi kehidupannya akhirnya mengkompromikan kepentingannya.

Semoga para suami bisa menjadi lebih bijak, tidak menguasai, tidak memaksa yang lain untuk menjadi seperti dirinya.

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: